Monday, July 16, 2012

Filsafat Firasat


Manusia telah lama memijakkan kaki pada dunia. Dari mulai ribuan tahun sebelum masehi, hingga ke periode klasik dan era pencerahan, hingga termin postmodern sekarang ini.Peristiwa-peristiwa terjadi beriringan dengan perpindahan waktu tersebut. Peristiwa yang dikatakan sebagai fenomena hingga tercatat dalam sejarah. Berkaitan dengan itu, keberadaan manusia di dunia juga telah menjadi fenomena. Fenomena ini kebanyakan menjadi subjek pertanyaan dalam filsafat klasik dan selain itu, penjelasan tentang keberadaan manusia juga diceritakan dalam ajaran agama. Terlepas dari kebenaran penjelasan-penjelasan tersebut, filsafat ataupun ajaran agama tidaklah berfungsi sebagai dasar pemikiran, melainkan tempat dimana manusia menaruh keyakinan tentang keberadaan di dunia.
            Filsafat dapat timbul ketika pertanyaan-pertanyaan yang mengacu kepada pencarian kebenaran muncul dalam benak para pemikir. Para pemikir tersebut disebut sebagai filsuf, yang berarti, seseorang yang orang yang mencari kebenaran. Dalam pendidikan Islam, filosofi terdiri dari kata philo (mencintai) sophia (hikmah, ilmu atau, kebijaksanaan). Jika disimpulkan maka filosofi itu bisa berarti mencintai ilmu atau kebijaksanaan. Dua makna tersebut berbeda dalam bunyi pengucapannya namun, dalam segi esensi keduanya memiliki inti yang sama yaitu mencari ilmu yang tidak pernah lepas dari pertanyaan dan pencarian kebenaran.

Friday, June 8, 2012

Modern Tradisional

               
“…kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.”Koentjaraningrat.
              
              Sebagai sebuah latar pokok, Si Pendongeng kali ini hendak mengkisahkan tentang sebuah pertunjukan drama sinema Gatotkaca Kembar, yang dipentaskan hari Sabtu pekan lalu. Namun yang akan dijadikan alur utama bukanlah bagaimana kelangsungan pementasan tersebut melainkan, sebuah pertanyaan yang timbul ketika mengingat pertunjukan seni panggung tersebut. Pertanyaannya adalah, jika saja semua yang berbau budaya tradisional itu harus dibungkus rapih-rapih dengan bumbu kekinian, maka sesungguhnya, sebesar apakah kepekaan kita terhadap keaslian hal yang sangat menarik itu?
                Butuh penelitian yang amat mendalam untuk membuktikan suatu kenyataan yang dituliskan dalam bentuk jawaban konsep teoritis. Namun mengingat Si Pendongeng bukanlah seorang cendikia yang rajin meneliti, maka dalam hal ini, penelitian atau apapun yang bersifat ilmiah akan dipersilahkan pada mereka yang menginginkan, pintar dan, rajin meneliti.

Pementasan teatrikal Gatotkaca Kembar terdiri dari penggabungan antara; drama, musik, sinematografi dan, wayang. Seni panggung berdurasi 75 menit tersebut benar-benar sangat memukau. Begitu memukau sampai-sampai membuat pikiran Si Pendongeng menerawang dalam tanya yang diiringi rasa sesal akan ketidaktahuan dari penampakan asli seni panggung wayang.
 Jika ditelisik, pewayangan berasal dari kebudayaan etnis Jawa ini telah ada sejak animisme menjadi kepercayaan masyarakat Jawa. Pementasan wayang membutuhkan waktu minimal selama tiga jam. Bahkan, penceriteraan tersebut bisa membuat para penonton, pemain gamelan dan, pendalang terjaga selama semalam suntuk.
Pewayangan biasanya mengangkat kisah-kisah dari kitab Mahabrata atau, Ramayana. Selain itu wayang juga menceriterakan kisah-kisah berkandung nilai filosofi tinggi yang dapat dipelajari dan diterapkan untuk kehidupan sehari-hari. Tidak hanya itu saja, tokoh-tokoh yang menjadi pelaku dalam cerita juga seperti cerminan dari keragaman sifat manusia yang kerap bisa ditemui dalam keseharian. Misalnya, kelicikan Kurawa pada Pandhawa untuk memanjakan keserakahan atas tahta dan kekayaan, ikatan persaudaraan yang diwarnai keinginan untuk saling bunuh atas azas kebencian dan juga, keindahan dari rasa cinta abadi dari Rama dan Sinta, dan masih banyak lagi hal menarik lainnya yang Pendongeng pun belum ketahui. Namun yang Pendongeng ketahui adalah, sifat-sifat tersebut adalah benar adanya pada dalam diri manusia di sekitar kita.
 Perlu diingat, pewayangan itu tidak akan selalu menceritakan Mahabrata atau Hanoman. Berdasarkan beberapa temuan peneliti, perwayangan terah berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan perkembangan masyarakat Jawa. Bayangkan saja seberapa besar wawasan yang bisa didapat dari unsur kebudayaan tradisional yang satu ini. Lalu bayangkan juga pengetahuan kaya dari unsur kebudayaan tradisional lainnya. Sudah pasti sama seperti mengeruk tambang emas Freeport untuk keuntungan seorang diri, bukan?
Namun sayangnya kekayaan yang tadi disebutkan itu mungkin tidak begitu nampak meggema di kalangan muda, apalagi di kota besar seperti Jakarta ini. Pewayangan terkesan tidak begitu menarik karena cenderung memberi impresi kuno dan ketinggalan zaman. Bisa jadi pementasan Gatotkaca Kembar adalah salah satu contoh dan upaya untuk membenarkan argumen Si Pendongeng sebelum ini.
Jika benar adanya maka, ini bisa jadi sesuatu yang sangat menyakitkan. Karena, itu sama dengan hampir memberi bukti bahwa generasi muda membiarkan kekayaan waris budaya tradisional terbengkalai. Sehingga perlu menarik perhatian mereka dengan menggunakan hal yang mereka sukai. Yang lebih menyakitkannya lagi, itu juga sama seperti menggambarkan ketidaksukaan pada esensi yang ditawarkan oleh budaya kaya yang dimiliki.
Sebaliknya, jika yang barusan itu hanyalah prasangka buruk Si Pendongeng belaka, maka anggaplah pementasan tersebut adalah sebuah inovasi baru dari pewayangan. Tentu saja apresiasi dan dukungan diperlukan agar inovasi itu akan bertahan dan, memberikan yang lebih baik lagi di hari berikutnya. Bisa saja, jika kita mau megandai-andai, suatu hari nanti ada poster dan reklame pemutaran film layar lebar tentang cerita asli di dalam perwayangan atau, cerita dari kebudayaan tradisonal lainnya di bioskop. Dan mungkin juga pada saat itu, tokoh-tokoh yang berasal dari kebudayaan tradisional telah menjadi ikon patron-patron yang mendunia.
Terlepas dari semua yang dituliskan Si Pendongeng dan, terlepas dari asal datangnya suatu unsur kebudayaan tertentu, budaya terwujud dalam tiga hal yaitu; gagasan, perilaku dan, hasil perilaku. Sementara itu, perwayangan hanyalah salah satu dari sekian banyaknya unsur kebudayaan, yang mencerminkan gagasan, perilaku dan, hasil perilaku dari bangsa kita sendiri. Betapa baiknya apabila kepekaan terhadap hal tersebut lebih ditingkatkan dengan cara menarik diri untuk mulai menyukainya, lalu dipegang dengan erat, serta selalu dinegosiasikan agar sesuai dengan perkembangan zaman—agar terpelihara dan tidak punah. Dengan begitu, sudah pasti tidak akan ada yang dirugikan. Justru yang terjadi adalah bertambahnya wawasan dan, penggemaan mendunia atas citra diri bangsa yang amat kaya ini. (TM/040612*Berbagai sumber).

Thursday, May 3, 2012

Anomali dalam Film Karya Joko Anwar, 'Modus Anomali'


               Kalau boleh dijelaskan dengan singkat, film karya Joko Anwar ini hanya butuh satu kata untuk menggambarkan keseluruhannya—‘anomali’. Dengan kata lain, film ini boleh jadi sebuah anomali di tengah-tengah stereotip para pecinta film tanah air yang sudah terkonstruksi akibat perindustrian film Indonesia sendiri. Tapi jika bicara soal stereotip pada film karya anak bangsa, persepsi yang sudah terbangun biasanya akan selalu berkesan buruk.
Lantas hal tersebut juga menimpa garapan mas Joko Anwar yang sempat menduduki peringkat kedua di IMDB. Contoh jelasnya adalah, kecenderungan besar untuk komentar yang negatif dapat ditemukan pada kolom komentar di situs yang menampilkan reklame film tersebut. Sebagai contoh, belum lagi film itu lepas dari label ‘COMING SOON’ tapi, sudah banyak asumsi yang menerangkan bahwa Modus Anomali hanyalah tayangan murahan lain yang tidak akan jauh dari tema; hantu-hantuan dengan bumbu ‘ngeres’, cerita cinta picisan atau, komedi murahan.

Wednesday, April 4, 2012

Ambiguitas Perilaku Seorang Pelakon


Ada banyak kerancuan tak kasat mata dalam segi perilaku yang mengacu kepada oknum-oknum tertentu. Dengan ini, pendongeng menyebutnya ‘Pelakon’. Perilaku inilah yang membuat kita sering keliru dalam berpersepsi hingga akhirmya, banyak sekali pelakon yang melakukan sesuatu dengan pola pikir terbalik. Singkatnya, tidak sedikit Pelakon yang kurang paham dengan yang ia lakukan sehingga, hasil perilakunya jadi berbanding terbalik dengan gagasan yang mereka miliki.
                Sekarang mari kita ambil contoh dari rasa kurang pengetahuan. Rasa kurang pengetahuan itu sangatlah baik. Jelas saja, ketika ada Pelakon yang memiliki rasa kurang pengetahuan yang besar maka ia akan selalu merasa kurang belajar. Lantas itu akan membuatnya mendinamisasikan diri dengan cara menambah lebih banyak ilmu. Seorang pelakon juga akan terus-terusan melenturkan dirinya dalam menerima hal yang belum diketahui untuk dipelajari lagi.

Wednesday, March 28, 2012

Surat Untuk Para Cendikia, Tokoh Agama dan, MK


            Kadang saya merasa lucu melihat cenidikiawan di negri ini. Kelakar mereka lebih sering seperti guyon ketimbang orang pintar. Orang pintar itu harusnya mampu untuk mengerti suatu hal, tidak hanya dari satu sudut panjang saja. Ya boleh jadi saya salah untuk yang barusan toh saya ini cuma pendongeng, iya kan? Nah, kembali lagi ke para cendikiwan yang selalu mengherankan, mereka cenderung ingin mengkritik tanpa memberikan solusi.
Misalnya pada putusan MK tentang ‘anak hasil zina. Putusan MK yang memberikan pengakuan kepada ‘anak hasil zina’ itu memicu para cendikiawan, khususnya tokoh-tokoh agama untuk melemparkan kririk. Tidak perlu dijelaskan bentuk kritik mereka, yang jelas, mereka merasa MK bukan hanya melangkahi para tokoh-tokoh agama  dengan tidak meminta pendapat mereka—MK seperti ingin melegalisasikan zina.
                Disinilah letak guyonnya. Anggaplah ‘anak hasil zina’ itu sama dengan anak hasil nikah sirih atau, anak yang lahir dari hubungan pra nikah, lantas, apakah mereka tidak berhak mendapatkan—paling tidak—pengakuan dari Negara tempat dimana mereka dilahirkan. Lagipula, kalo dipikir dengan menggunakan akal sehat dan hati nurani yang manusiawi, seorang anak—mau lahir hasil zina atau apapun—akan selalu lahir tanpa dosa. Mereka mana pernah minta dilahirkan? Yang ada malah orang tuanya yang doyan mainan alat kelamin sembarangan padahal mereka juga udah cukup dewasa untuk paham yang namanya zina. Lalu karena tidak sesuai rencana dan aturan main, bisa gampang saja tinggal tidak mengakui anak itu, begitu maunya ya?
                Buat para cendikiawan, coba disingkirkan dulu sebentar pikiran negatif dan ego ‘pintarnya’. Putusan ini bukan berarti melegalisasikan zina tapi bisa jadi MK ingin memberikan perlindungan yang lebih kepada anak. Efek yang paling logis dari putusan ini selain pengakuan terhadap anak yang tidak jelas siapa orang tuanya adalah, pengetahuan yang merujuk kepada orang tua anak ini sendiri. Dengan begitu, bisa kelihatan yang berhidung belang. Di saat yang sama, maka haruslah ia bertanggung jawab. Tapi yang terjadi adalah, si cendikiawan emosi duluan. Begitu juga si religius, merasa paling jenius ketika ada urusan yang berbau keagamaan dan, MK juga diam seribu bahasa, tidak memberikan kejelasan kepada putusannya. Karena sudah pasti kan, MK itu akan berpikir lebih dulu sebelum membuat satu putusan? Kalau benar begitu harusnya dijelaskan dengan sebaik-baiknya dong.
                Jika para cendikia dan tokoh agama ingin membicarakan soal zina dan nilai-nilai tertentu, maka bicarakanlah hal itu kepada semua orang. Jika pun mereka ingin membuat labelisasi tertentu dengan nama zina, maka berikan label itu kepada orang-orang yang melakukan. Tapi jangan berikan label tersebut kepada anak. Sekali lagi jika boleh dingatkan, tidak ada satupun anak yang minta dilahirkan, apalagi meminta agar dilahirkan dari hasil zina. Pun kalau mau bicara kuasa tuhan, itu urusan dia menentukan dosa si pezina. Karena sesungguhnya para cendikiawan hanya mampu mereka-reka maksud tertentu. Jadi bukan berarti karena mereka pintar lantas pikiran kalian sama dengan pikiran tuhan.
                Tidak ada maksud untuk mendukung atau menjadi oposisi dari pihak-pihak tertentu dalam tulisan ini. Ini hanyalah cerita dari pendongeng berotak dangkal. Tapi maksud si pendongeng adalah, jika saya yang bodoh saja bisa berpikir seperti ini, lantas mengapa para cendikiawan, tokoh agama dan MK tidak? Jika saya salah maka, paling tidak, saya akan mencoba untuk memahaminya lagi. Sebaliknya jika pikiran saya benar, maka lucunya adalah; saya harus memberikan saran bahwa kita semua sebaiknya jadi bodoh saja karena bisa berpikir dengan benar. (TM/220312)


PS: Tidak ada maksud untuk mengadvokasi perzinahan dalam tulisan ini.PPS: Saya memberikan tanda kutip karena sebenarnya tidak ingin menggunakan kata-kata tersebut. Berhubung mereka semua sudah terlalu sering menggunakan kata-kata itu, dengan alasan menghindari kesalahpahaman tertentu saya menggunakannya. Jujur saja, kata-kata yang saya letakan di antara tanda kutip itu sebenarnya tidak perlu digunakan.
 PPPS: Mungkin lama kelamaan, bisa jadi ada fatwa yang mengharamkan MK untuk memberikan putusan tertentu.