Kalau boleh dijelaskan dengan
singkat, film karya Joko Anwar ini hanya butuh satu kata untuk menggambarkan keseluruhannya—‘anomali’.
Dengan kata lain, film ini boleh jadi sebuah anomali di tengah-tengah stereotip
para pecinta film tanah air yang sudah terkonstruksi akibat perindustrian film
Indonesia sendiri. Tapi jika bicara soal stereotip pada film karya anak bangsa,
persepsi yang sudah terbangun biasanya akan selalu berkesan buruk.
Lantas hal
tersebut juga menimpa garapan mas Joko Anwar yang sempat menduduki peringkat
kedua di IMDB. Contoh jelasnya adalah, kecenderungan besar untuk komentar yang negatif
dapat ditemukan pada kolom komentar di situs yang menampilkan reklame film
tersebut. Sebagai contoh, belum lagi film itu lepas dari label ‘COMING SOON’ tapi, sudah banyak asumsi
yang menerangkan bahwa Modus Anomali hanyalah tayangan murahan lain yang tidak
akan jauh dari tema; hantu-hantuan dengan bumbu ‘ngeres’, cerita cinta picisan atau, komedi murahan.