“…kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya
manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia
dengan belajar.”Koentjaraningrat.
Sebagai sebuah latar pokok, Si
Pendongeng kali ini hendak mengkisahkan tentang sebuah pertunjukan drama sinema
Gatotkaca Kembar, yang dipentaskan hari Sabtu pekan lalu. Namun yang
akan dijadikan alur utama bukanlah bagaimana kelangsungan pementasan tersebut melainkan, sebuah pertanyaan yang timbul ketika mengingat
pertunjukan seni panggung tersebut.
Pertanyaannya adalah, jika saja semua yang berbau budaya
tradisional itu harus dibungkus rapih-rapih dengan bumbu kekinian, maka sesungguhnya, sebesar
apakah kepekaan kita terhadap keaslian
hal yang sangat menarik itu?
Butuh penelitian yang amat
mendalam untuk membuktikan suatu kenyataan yang dituliskan dalam bentuk jawaban konsep teoritis.
Namun mengingat Si Pendongeng bukanlah seorang cendikia yang rajin meneliti,
maka dalam hal ini, penelitian atau apapun yang bersifat ilmiah akan dipersilahkan pada
mereka yang menginginkan, pintar
dan, rajin meneliti.
Pementasan teatrikal Gatotkaca Kembar terdiri dari
penggabungan antara; drama, musik,
sinematografi dan, wayang. Seni panggung berdurasi 75 menit tersebut benar-benar sangat memukau. Begitu memukau
sampai-sampai membuat pikiran Si Pendongeng menerawang dalam tanya yang diiringi rasa sesal akan ketidaktahuan dari penampakan
asli seni panggung wayang.
Jika
ditelisik, pewayangan berasal dari kebudayaan etnis Jawa ini telah ada sejak animisme menjadi kepercayaan masyarakat Jawa. Pementasan wayang
membutuhkan waktu minimal selama
tiga jam. Bahkan, penceriteraan tersebut bisa membuat para penonton, pemain gamelan dan, pendalang terjaga selama semalam suntuk.
Pewayangan biasanya mengangkat kisah-kisah dari kitab Mahabrata atau, Ramayana.
Selain itu wayang juga menceriterakan kisah-kisah berkandung nilai filosofi tinggi yang dapat
dipelajari dan diterapkan untuk
kehidupan sehari-hari. Tidak hanya itu saja, tokoh-tokoh
yang menjadi pelaku dalam cerita juga seperti cerminan dari keragaman sifat manusia yang
kerap bisa ditemui dalam keseharian. Misalnya, kelicikan Kurawa pada Pandhawa untuk
memanjakan keserakahan atas tahta dan kekayaan, ikatan persaudaraan yang
diwarnai keinginan untuk saling bunuh atas azas kebencian dan juga, keindahan dari rasa cinta abadi dari Rama dan Sinta, dan masih banyak
lagi hal menarik lainnya yang Pendongeng pun belum ketahui. Namun yang
Pendongeng ketahui adalah, sifat-sifat tersebut adalah benar adanya pada dalam
diri manusia di sekitar kita.
Perlu diingat, pewayangan itu tidak akan
selalu menceritakan Mahabrata atau Hanoman. Berdasarkan beberapa temuan
peneliti, perwayangan terah berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan
perkembangan masyarakat Jawa. Bayangkan saja seberapa besar wawasan yang bisa
didapat dari unsur kebudayaan tradisional yang satu ini. Lalu bayangkan juga pengetahuan
kaya dari unsur kebudayaan tradisional lainnya. Sudah pasti sama seperti
mengeruk tambang emas Freeport untuk keuntungan
seorang diri, bukan?
Namun sayangnya kekayaan yang tadi disebutkan itu mungkin tidak
begitu nampak meggema di kalangan muda, apalagi di kota besar seperti Jakarta ini. Pewayangan
terkesan tidak begitu menarik karena cenderung memberi
impresi kuno dan ketinggalan
zaman. Bisa jadi pementasan Gatotkaca Kembar adalah salah satu contoh dan upaya
untuk membenarkan argumen Si Pendongeng sebelum ini.
Jika benar adanya maka, ini bisa jadi sesuatu
yang sangat menyakitkan. Karena, itu sama dengan hampir memberi bukti bahwa
generasi muda membiarkan kekayaan waris budaya tradisional terbengkalai. Sehingga
perlu menarik perhatian mereka dengan menggunakan hal yang mereka sukai.
Yang lebih menyakitkannya lagi, itu juga
sama seperti menggambarkan ketidaksukaan pada esensi yang ditawarkan oleh
budaya kaya yang dimiliki.
Sebaliknya, jika yang barusan itu hanyalah
prasangka buruk Si Pendongeng belaka, maka anggaplah pementasan tersebut adalah
sebuah inovasi baru dari pewayangan. Tentu saja apresiasi dan dukungan
diperlukan agar inovasi itu akan bertahan dan, memberikan yang lebih baik lagi
di hari berikutnya. Bisa saja, jika kita mau megandai-andai, suatu hari nanti
ada poster dan reklame pemutaran film layar lebar tentang cerita asli di dalam perwayangan
atau, cerita dari kebudayaan tradisonal lainnya di bioskop. Dan mungkin juga pada
saat itu, tokoh-tokoh yang berasal dari kebudayaan tradisional telah menjadi
ikon patron-patron yang mendunia.
Terlepas
dari semua yang dituliskan Si Pendongeng dan, terlepas dari asal datangnya
suatu unsur
kebudayaan tertentu, budaya terwujud
dalam tiga hal yaitu; gagasan, perilaku dan, hasil
perilaku. Sementara itu, perwayangan hanyalah salah satu dari sekian banyaknya unsur kebudayaan, yang mencerminkan gagasan, perilaku dan,
hasil perilaku dari bangsa kita sendiri. Betapa baiknya
apabila kepekaan terhadap hal tersebut lebih ditingkatkan dengan cara menarik diri untuk mulai
menyukainya, lalu dipegang dengan erat, serta selalu
dinegosiasikan agar sesuai dengan perkembangan zaman—agar terpelihara dan tidak punah. Dengan begitu, sudah pasti tidak akan ada yang dirugikan. Justru yang terjadi adalah bertambahnya wawasan dan,
penggemaan mendunia atas citra diri bangsa yang amat kaya ini.
(TM/040612*Berbagai sumber).