Friday, June 8, 2012

Modern Tradisional

               
“…kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.”Koentjaraningrat.
              
              Sebagai sebuah latar pokok, Si Pendongeng kali ini hendak mengkisahkan tentang sebuah pertunjukan drama sinema Gatotkaca Kembar, yang dipentaskan hari Sabtu pekan lalu. Namun yang akan dijadikan alur utama bukanlah bagaimana kelangsungan pementasan tersebut melainkan, sebuah pertanyaan yang timbul ketika mengingat pertunjukan seni panggung tersebut. Pertanyaannya adalah, jika saja semua yang berbau budaya tradisional itu harus dibungkus rapih-rapih dengan bumbu kekinian, maka sesungguhnya, sebesar apakah kepekaan kita terhadap keaslian hal yang sangat menarik itu?
                Butuh penelitian yang amat mendalam untuk membuktikan suatu kenyataan yang dituliskan dalam bentuk jawaban konsep teoritis. Namun mengingat Si Pendongeng bukanlah seorang cendikia yang rajin meneliti, maka dalam hal ini, penelitian atau apapun yang bersifat ilmiah akan dipersilahkan pada mereka yang menginginkan, pintar dan, rajin meneliti.

Pementasan teatrikal Gatotkaca Kembar terdiri dari penggabungan antara; drama, musik, sinematografi dan, wayang. Seni panggung berdurasi 75 menit tersebut benar-benar sangat memukau. Begitu memukau sampai-sampai membuat pikiran Si Pendongeng menerawang dalam tanya yang diiringi rasa sesal akan ketidaktahuan dari penampakan asli seni panggung wayang.
 Jika ditelisik, pewayangan berasal dari kebudayaan etnis Jawa ini telah ada sejak animisme menjadi kepercayaan masyarakat Jawa. Pementasan wayang membutuhkan waktu minimal selama tiga jam. Bahkan, penceriteraan tersebut bisa membuat para penonton, pemain gamelan dan, pendalang terjaga selama semalam suntuk.
Pewayangan biasanya mengangkat kisah-kisah dari kitab Mahabrata atau, Ramayana. Selain itu wayang juga menceriterakan kisah-kisah berkandung nilai filosofi tinggi yang dapat dipelajari dan diterapkan untuk kehidupan sehari-hari. Tidak hanya itu saja, tokoh-tokoh yang menjadi pelaku dalam cerita juga seperti cerminan dari keragaman sifat manusia yang kerap bisa ditemui dalam keseharian. Misalnya, kelicikan Kurawa pada Pandhawa untuk memanjakan keserakahan atas tahta dan kekayaan, ikatan persaudaraan yang diwarnai keinginan untuk saling bunuh atas azas kebencian dan juga, keindahan dari rasa cinta abadi dari Rama dan Sinta, dan masih banyak lagi hal menarik lainnya yang Pendongeng pun belum ketahui. Namun yang Pendongeng ketahui adalah, sifat-sifat tersebut adalah benar adanya pada dalam diri manusia di sekitar kita.
 Perlu diingat, pewayangan itu tidak akan selalu menceritakan Mahabrata atau Hanoman. Berdasarkan beberapa temuan peneliti, perwayangan terah berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan perkembangan masyarakat Jawa. Bayangkan saja seberapa besar wawasan yang bisa didapat dari unsur kebudayaan tradisional yang satu ini. Lalu bayangkan juga pengetahuan kaya dari unsur kebudayaan tradisional lainnya. Sudah pasti sama seperti mengeruk tambang emas Freeport untuk keuntungan seorang diri, bukan?
Namun sayangnya kekayaan yang tadi disebutkan itu mungkin tidak begitu nampak meggema di kalangan muda, apalagi di kota besar seperti Jakarta ini. Pewayangan terkesan tidak begitu menarik karena cenderung memberi impresi kuno dan ketinggalan zaman. Bisa jadi pementasan Gatotkaca Kembar adalah salah satu contoh dan upaya untuk membenarkan argumen Si Pendongeng sebelum ini.
Jika benar adanya maka, ini bisa jadi sesuatu yang sangat menyakitkan. Karena, itu sama dengan hampir memberi bukti bahwa generasi muda membiarkan kekayaan waris budaya tradisional terbengkalai. Sehingga perlu menarik perhatian mereka dengan menggunakan hal yang mereka sukai. Yang lebih menyakitkannya lagi, itu juga sama seperti menggambarkan ketidaksukaan pada esensi yang ditawarkan oleh budaya kaya yang dimiliki.
Sebaliknya, jika yang barusan itu hanyalah prasangka buruk Si Pendongeng belaka, maka anggaplah pementasan tersebut adalah sebuah inovasi baru dari pewayangan. Tentu saja apresiasi dan dukungan diperlukan agar inovasi itu akan bertahan dan, memberikan yang lebih baik lagi di hari berikutnya. Bisa saja, jika kita mau megandai-andai, suatu hari nanti ada poster dan reklame pemutaran film layar lebar tentang cerita asli di dalam perwayangan atau, cerita dari kebudayaan tradisonal lainnya di bioskop. Dan mungkin juga pada saat itu, tokoh-tokoh yang berasal dari kebudayaan tradisional telah menjadi ikon patron-patron yang mendunia.
Terlepas dari semua yang dituliskan Si Pendongeng dan, terlepas dari asal datangnya suatu unsur kebudayaan tertentu, budaya terwujud dalam tiga hal yaitu; gagasan, perilaku dan, hasil perilaku. Sementara itu, perwayangan hanyalah salah satu dari sekian banyaknya unsur kebudayaan, yang mencerminkan gagasan, perilaku dan, hasil perilaku dari bangsa kita sendiri. Betapa baiknya apabila kepekaan terhadap hal tersebut lebih ditingkatkan dengan cara menarik diri untuk mulai menyukainya, lalu dipegang dengan erat, serta selalu dinegosiasikan agar sesuai dengan perkembangan zaman—agar terpelihara dan tidak punah. Dengan begitu, sudah pasti tidak akan ada yang dirugikan. Justru yang terjadi adalah bertambahnya wawasan dan, penggemaan mendunia atas citra diri bangsa yang amat kaya ini. (TM/040612*Berbagai sumber).

No comments:

Post a Comment

Tanggapan anda disini...