Manusia
telah lama memijakkan kaki pada dunia. Dari mulai ribuan tahun sebelum masehi, hingga ke periode klasik dan era
pencerahan, hingga termin postmodern
sekarang ini.Peristiwa-peristiwa
terjadi beriringan dengan perpindahan waktu tersebut.
Peristiwa yang dikatakan sebagai fenomena hingga tercatat
dalam sejarah. Berkaitan dengan itu, keberadaan manusia di dunia juga telah menjadi fenomena.
Fenomena ini kebanyakan menjadi subjek pertanyaan dalam filsafat klasik dan
selain itu, penjelasan tentang keberadaan manusia juga diceritakan dalam ajaran
agama. Terlepas dari kebenaran penjelasan-penjelasan tersebut, filsafat ataupun
ajaran agama tidaklah berfungsi sebagai dasar pemikiran, melainkan tempat
dimana manusia menaruh keyakinan tentang keberadaan di dunia.
Filsafat
dapat timbul ketika pertanyaan-pertanyaan yang mengacu kepada pencarian
kebenaran muncul dalam benak para pemikir. Para pemikir tersebut disebut
sebagai filsuf, yang berarti, seseorang yang orang yang mencari kebenaran. Dalam
pendidikan Islam, filosofi terdiri dari kata philo (mencintai) sophia
(hikmah, ilmu atau, kebijaksanaan). Jika disimpulkan maka filosofi itu bisa
berarti mencintai ilmu atau kebijaksanaan. Dua makna tersebut berbeda dalam
bunyi pengucapannya namun, dalam segi esensi keduanya memiliki inti yang sama
yaitu mencari ilmu yang tidak pernah lepas dari pertanyaan dan pencarian
kebenaran.
Namun
jauh sebelum waktu di mana para filsuf mengemukakan hasil pemikiran mereka,
narasi tentang terjadinya kehidupan dan keberadaan manusia sudah lekat dalam
kerangka budaya manusia. Mitos adalah salah satu dari hal yang dimaksudkan dan,
menjadi kepercayaan manusia tentang segala penjelasan yang terjadi dalam
kehidupan. Namun tidaklah lain bahwa mitos itu sendiri bisa menjadi
penggambaran kehidupan manusia.
Mitos
mengenal dewa-dewa yang menjadi entitas yang lebih unggul dari manusia.
Karenanya manusia diciptakan. Dalam mitologi Yunani, Zeus dipercaya sebagai
dewa paling tinggi dan memimpin dengan kuasa paling besar dibangingkan dewa
lainnya. Sementara dalam mitologi Skandinavia, Odin adalah raja dari segala
dewa yang mempunyai dua orang anak yaitu Thor dan Loki. Dua contoh yang telah
disebutkan sebelum ini, mempunyai intrik dan peristiwa yang mejadi dasar
pemikiran manusia dalam menjelaskan setiap fenomena dan keyakinan.
Tidak
hanya Scandinavia atau Yunani saja, mitologi juga dapat ditemukan dalam versi
yang berbeda di negara lain. Misalnya, dalam kebudayaan mesir kuno, Cina,
Jepang, Amerika selatan bahkan Indonesia. Asumsi Pendongeng dalam hal ini adalah, setiap bangsa yang menempati
wilayah tertentu selalu mempunyai mitologi. Yang mana hal tersebut memiliki
kandungan pemikiran tentang keberadaan manusia di dunia dan proses alam
lainnya. Hanya saja, mitologi telah dibuat sebagai sekedar cerita dalam unsur
budaya tertentu, ketika para filsuf mulai mempertanyakan dan menemukan jawaban
lain. Tentu saja jawaban para filsuf menjadi penanda dari kemajuan peradaban
dunia.
Dalam
sejarah pemikiran barat, filsuf yang terhitung dengan pemikiran tentang
eksistensi manusia adalah Thaes. Ia berasal dari sebuah koloni Yunani di Asia
kecil bernama, Miletus. Menurut Thales, keberadaan segala sesuatu itu bersumber
dari air. Bisa disarikan dari pemikirannya bahwa semua yang mempunyai
keberadaan itu akan menjadi air pada akhirnya, dan tercipta dari zat tersebut.
Dari tempat asal dan periode kehidupan yang sama, Anaximander juga tercatat
sebagai filsuf yang mengemukakan pemikirannya.
Anggapannya
adalah dunia yang kita ketahui sekarang ini hanyalah satu dari sekian banyak
dunia lainnya, yang mana kesemuanya akan muncul dan selalu sirna di dalam
sesuatu yang tak terbatas. Pemikirannya ini jelas berbeda dengan Thales,
mengingat pemikiran Thales mengacu kepada suatu zat yang mempunyai satuan
ukuran dan jenis yaitu air. Kesimpulan sementara Pendongeng mengenai pemikiran Anaximander yang menyebutkan ‘sesuatu
yang tak terbatas’ adalah, bahwa bisa saja filsuf tersebut ingin mennyampaikan
keberadaan suatu entitas yang maha besar atau tuhan, sebagai sumber dari segala
sesuatu dalam kehidupan—termasuk manusia dan dunia. Mungkin saja pada saat itu,
Anaximander belum bisa menyelesaikan penjelasannya tentang hal tersebut. Atau,
mungkin saja pandangan si Pendongeng dalam hal ini terhitung subjektif, mengingat dasar
keyakinan Penulis berada dalam konsep agama tertentu.
Setelah
Anaximander, filsuf berikutnya yang mengemukakan teori eksistensi adalah
Anaximenes yang kira-kira hidup pada tahun 570-526 SM. Walaupun berbeda, teori
Anaximenes berkenaan dengan Thales yaitu, sumber dari segala keberadaan adalah
‘udara’ atau ‘uap’. Jelas saja pemikiran ini, bisa dianggap sebagai sebuah
penyanggahan dari dua teori yang telah disebutkan sebelumnya.
Jika
Thales menganggap bahwa air adala sumber dari segala sesuatu, maka Anaximenes
berpikiran bahwa udara yang dipadatkan adalah asal usul air, yang mana, jika
dikaitkan kepada proses alam, penguapan air laut yang menyebabkan hujan adalah
bukti nyata dari teorinya. Jika disederhanakan, segala elemen-elemen yang dapat
ditemukan di dunia ini berasal dari udara yang dipadatkan. Selain itu,
sedemikian halnya pemikiran Thales, Anaximenes memiliki anggapan yang sama
bahwa segala sesuatu hal itu bersumber dari suatu zat yang menimbulkan fenomena-fenomena
tertentu dalam alam, keberadaan manusia juga termasuk dalam konteks itu.
Dalam
hal yang telah dituliskan sebelumnya, Penulis masih memiliki anggapan yang
sama, bahwa pemikiran-pemikiran filsuf tersebut mempunyai makna implisit tentang
keberadaan entitas paling besar yang mengawali setiap keberadaan dalam
kehidupan. Suatu entitas yang mungkin saja mempunyai kesamaan dalam keyakinan Pendongeng
tentang ketuhanan. Atau bisa saja di masa itu,
pemikiran-pemikiran dari filsuf tersebut menimbulkan dasar kepercayaan dalam
masyarakat di zaman itu. Yang mana membuat mereka meyakini bahwa zat tertentu
adalah tuhan bagi mereka. Jika anggapan ini benar, maka mungkin saja dasar
pemikiran itulah yang menimbulkan kepercayaan Animisme dan Dinamisme, yang
berarti, menuhankan suatu entitas tertentu atau suatu zat tertentu.
Kembali pada pembahasan Penulis mengenai
eksistensialisme, filsuf lain yang menyinggung hal tersebut adalah Parmenides
(540-480 SM). Masih memiliki kesamaan dengan filsuf sebelumnya, yang mana
mempunyai anggapan hampir serupa. Menurut Permenides, segala sesuatu yang ada
pasti telah selalu ada sebelumnya. Dengan kata lain dan terlepas dari suatu zat
partikular tertentu, gagasan Permenides berpikiran bahwa tidak ada sesuatu hal
yang dapat tercipta dari ketiadaan dan, tiada satu hal pun yang telah ada
menjadi tidak ada.
Menyingkap
pemikiran Permenides lebih dalam, ia menganggap bahwa perubahan aktual itu
tidak ada. Walaupun pada kenyataannya perubahan-perubahan itu terjadi atau
dapat terjadi, pemikiran Permenides ini menampik hal itu. Ia meyakini bahwa apa
yang ditangkap oleh indra itu adalah penggambaran yang tidak sesuai, khususnya
bagi akal manusia. Akal manusia yang dimaksudkan disini adalah keyakinan yang
tak tergoyahkan dan sumber utama bagi pengetahuan tentang dunia.
Di zaman
yang sama dengan Permenides, Heraclitus juga mengemukakan pemikirannya yang
mempunyai saling bersinggungan. Pemikiran Heraclitus mengungkapkan bahwa segala
perubahan terus-menerus atau aliran adalah dasar dari ciri alam. “Segala
sesuatu terus mengalir,” adalah kata-kata Heraclitus tentang kehidupan. Dapat
diimbuhkan bahwa tidak akan ada hal yang sama atau, kejadian yang terulang dua
kali karena perubahan pasti terjadi dan membuat perbedaan.
Selain
itu, pemikiran Heraclitus juga mengacu pada kebalikan yang menjadi ciri dunia.
Sebagai contoh; kebaikan dan kejahatan, sehat dan sakit, malam dan siang, dll..
Dalam pemikirannya ini, Heraclitus disebutkan menggunakan kata ‘Tuhan’ ketika
mengemukakan gagasan itu, walaupun tidak secara langsung. Ia mengganti kata ‘Tuhan’ dengan logos (akal). Tapi yang diacukan dari
kata itu bukanlah hal yang sama dengan akal manusia, melainkan “akal universal”. Akal universal
ini dianggapnya sebagai penuntun seluruh kejadian alam.
Mengilas
balik dari pemikiran-pemikiran yang disebutkan sebelum Heraclitus, tentu saja
kesamaan-kesamaan dapat menjadi kesan dari kesemuanya. Asal dari segala sesuatu
atau, sebab dari segala kejadian, yang bersumber pada satu zat tertentu bisa
menjadi makna dari pemikiran para filsuf tersebut. Hal ini lagi-lagi
menyangsikan penulis untuk berasumsi bahwa ada satu hal yang menjadi penyebab
dari seluruh kejadian. Satu hal yang mana memiliki keberadaan absolut yang
tidak mudah untuk dijelaskan karena konsepnya yang abstrak ataupun, memiliki
wujud konkrit. Terlepas dari wujud konsepnya, si Pendongeng disini mendapatkan kesan bahwa kesadaran akan adanya
Tuhan atau entitas yang maha kuasa dalam kehidupan.
Menyangkut
kepada gagasan eksistensialisme dan tuhan, setiap agama yang ada memeberikan
ajaran dan, sistem keyakinan yang disertai praktek meyakini akan adanya Tuhan
sebagai suatu entitas yang maha kuasa di luar kenyataan dan pengetahuan
manusia. Ajaran agama memiliki narasi yang berisi penjelasan, bahkan pedoman bagi
umat manusia yang meyakini agama tertentu. Agama memiliki ritual-ritual, yang
mana bertujuan agar para penganut mempunyai kesadaran nilai yang terkandung
dalam agama tersebut.
Dalam
agama Kristen, Injil menjadi kitab suci para Kristiani. Injil dalam hal ini
berperan sebagai narasi yang mengandung pedoman hidup para penganut. Di dalam
kitab Injil tertera bagaimana proses penciptaan dunia dan kehidupan. Dikatakan
bahwa penciptaan dunia dilakukan dalam waktu tujuh hari oleh tuhan.
Sementara
dalam ajaran agama Islam, dalam surat Al Alaq ayat 2, “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” Disini penulis
melihat sebuah penjelasan tentang bagaimana manusia diciptakan oleh Allah SWT.
Jika disamakan dengan filosofi yang telah dituliskan dalam paragraf sebelumnya,
maka PendongengS menganggap bahwa kata ‘segumpal darah’ adalah satu zat
yang mengakibatkan keberadaan manusia. Namun jelas sekali dalam kutipan ayat
tersebut, kata ‘Dia’ mengacu kepada suatu entitas lain yang lebih berkuasa atas
penciptaan manusia. Kata ‘Dia’ dalam hal ini, bisa berarti kata ganti dari
subjek Tuhan (Allah SWT dalam ajaran Islam). Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa, asal usul eksistensi manusia berasal dari suatu zat tertentu. Namun, zat
yang menjadi asal penciptaan manusia masih bergantung kepada entitas lain yang
lebih besar, yaitu Tuhan.
Lebih dalam lagi
mengenai eksistensialisme filsafat klasik dan kesamaannya dengan ajaran agama
yang dituliskan disini, keberadaan manusia akan selalu dapat dipertanyakan
walaupun penjelasan tentang hal itu sudah tersedia. Menanggapi hal itu, Pendongeng merasa bahwa ada baiknya jika sebuah keyakinan terhadap
suatu hal itu adalah sebuah jawaban dari bagaimana segala sesuatu hal dapat
mempunyai keberadaan dan terjadi. Setiap penjelasan
hanyalah akan menjadi sekedar ungkapan yang menjelaskan sesuatu saja, tidak
lebih dan tidak juga kurang. Yang menjadi inti adalah bagaimana penjelasan
tersebut dapat dijadikan sebuah pertanyaan berikut ini, ‘apakah kita
mempercayainya atau tidak?’ (TM/160712)
No comments:
Post a Comment
Tanggapan anda disini...