Wednesday, April 4, 2012

Ambiguitas Perilaku Seorang Pelakon


Ada banyak kerancuan tak kasat mata dalam segi perilaku yang mengacu kepada oknum-oknum tertentu. Dengan ini, pendongeng menyebutnya ‘Pelakon’. Perilaku inilah yang membuat kita sering keliru dalam berpersepsi hingga akhirmya, banyak sekali pelakon yang melakukan sesuatu dengan pola pikir terbalik. Singkatnya, tidak sedikit Pelakon yang kurang paham dengan yang ia lakukan sehingga, hasil perilakunya jadi berbanding terbalik dengan gagasan yang mereka miliki.
                Sekarang mari kita ambil contoh dari rasa kurang pengetahuan. Rasa kurang pengetahuan itu sangatlah baik. Jelas saja, ketika ada Pelakon yang memiliki rasa kurang pengetahuan yang besar maka ia akan selalu merasa kurang belajar. Lantas itu akan membuatnya mendinamisasikan diri dengan cara menambah lebih banyak ilmu. Seorang pelakon juga akan terus-terusan melenturkan dirinya dalam menerima hal yang belum diketahui untuk dipelajari lagi.

                Sebaliknya, banyak juga Pelakon yang ‘tampak seperti punya rasa kurang pengetahuan yang besar’. Pendongeng sengaja memberikan tanda kutip sebagai tanda bahwa kalimat tersebut bermaksud sebaliknya. Dengan kata lain, ada Pelakon yang sebenarnya cuma ingin memamerkan ketahuannya kepada hal-hal tertentu dengan modus menunjukkan rasa kekurang pengetahuan.
                Nah, begitulah salah satu contoh yang mempunyai keterikatan kepada kasus berikutnya. Ada juga kerancuan di antara kesederhanaan dan asal-asalan. Ini berkaitan dengan bagaimana Pelakon menjalani proses-proses tertentu. Lebih jelasnya; dalam pemaknaan ‘simpel’ untuk sebuah penilaian tertentu yang mengacu kepada konsep kesederhanaan. Sesungguhnya kata tersebut bermaksud menjelaskan bahwa objek yang dinilai mengandung essensi tinggi tanpa mempunyai tingkat kerumitan dan aspek-aspek berlebihan.
Namun beberapa Pelakon kadang menyalahgunakan pemaknaan tersebut. Yang katanya dibilang  sederhana justru menunjukkan sebuah hasil yang asal-asalan nan tak keruan. Contoh jelasnya mudah saja, yang asal-asalan pasti tidak mempunyai esensi dan cenderung menyebalkan karena tidak ada kejelasan sama sekali dalam gagasan yang menyokongnya.
Ngomong-ngomong soal menyebalkan, beberapa Pelakon suka umbar ide liar menyebalkan. Yang dimaksud disini adalah ide-ide yang sekadarnya, tidak lebih dari wacana. Biasanya ide liar menyebalkan ini sering keluar dari mulut Pelakon ketika tengah berada dalam konteks tertentu dengan tujuan mencari ide kreatif yang menakjubkan (bisa saja dalam konteks lainnya). Tentu saja Pelakon menyampaikan ide-ide liar tersebut dengan maksud dan tujuan yang sama. Tapi perbedaan antara ide liar dan ide kreatif adalah; seperti yang sudah dikatakan tadi, ide liar hanya sekedar wacana dan biasanya bersifat keluar dari konteks, tidak masuk akal dan tidak relevan. Ide ini sebenarnya hanya akan menghambat dan, sama sekali tidak membantu.
Jika kita perhatikan lagi, semua hal yang sudah dijelaskan mempunya keterkaitan satu sama lain. Dan yang paling besar di antara semuanya adalah antara impian yang bertujuan dan onani angan-angan. Semua orang punya impian yang berbeda-beda dan juga besar. Atau anggaplah impian itu sama dengan cita-cita. Impian atau cita-cita, dapat diraih walaupun digantungkan setinggi-tingginya. Malah sekarang ini banyak sekali kisah inspiratif yang dapat memberikan motivasi bagi kita.
Ketika berbicara hal yang bersebrangan dengan impian, yang ada hanyalah angan-angan. Angan-angan itu lebih parah dari fatamorgana karena ia bukanlah suatu fenomena melainkan sama, dengan bualan. Pelakon biasanya seringkali membual tentang angan-angan seperti hal itu dapat digapainya di kemudian hari. Sepintas, angan-angan mirip seperti mimpi. Yang menjadikan pembeda yang jelas adalah usaha untuk membuatnya menjadi kenyataan. Tanpa usaha, semua impian akan sama dengan onani angan-angan. Mengapa demikian? Karena angan-angan hanya akan mempunyai keberadaan dalam kepala dan tidak akan muncul dalam bentuk realita.
Dari contoh yang sudah dijelaskan, kita bisa mengenali gejala-gejala perilaku pelakon yang berpola piker terbalik. Walaupun demikian, sebenarnya segala sesuatu yang dituliskan pendongeng bukanlah hal yang buruk. Pun tidak ada maksud untuk menkecilkan siapa-siapa disini, yang ditujukan adalah agar kita semua menyadari Pelakon macam apa kita ini sebenarnya. (TM/260312)

No comments:

Post a Comment

Tanggapan anda disini...