Ada banyak
kerancuan tak kasat mata dalam segi perilaku yang mengacu kepada oknum-oknum
tertentu. Dengan ini, pendongeng menyebutnya ‘Pelakon’. Perilaku inilah yang
membuat kita sering keliru dalam berpersepsi hingga akhirmya, banyak sekali pelakon
yang melakukan sesuatu dengan pola pikir terbalik. Singkatnya, tidak sedikit
Pelakon yang kurang paham dengan yang ia lakukan sehingga, hasil perilakunya
jadi berbanding terbalik dengan gagasan yang mereka miliki.
Sekarang
mari kita ambil contoh dari rasa kurang pengetahuan. Rasa kurang pengetahuan
itu sangatlah baik. Jelas saja, ketika ada Pelakon yang memiliki rasa kurang pengetahuan
yang besar maka ia akan selalu merasa kurang belajar. Lantas itu akan
membuatnya mendinamisasikan diri dengan cara menambah lebih banyak ilmu.
Seorang pelakon juga akan terus-terusan melenturkan dirinya dalam menerima hal
yang belum diketahui untuk dipelajari lagi.
Sebaliknya,
banyak juga Pelakon yang ‘tampak seperti punya rasa kurang pengetahuan yang
besar’. Pendongeng sengaja memberikan tanda kutip sebagai tanda bahwa kalimat
tersebut bermaksud sebaliknya. Dengan kata lain, ada Pelakon yang sebenarnya
cuma ingin memamerkan ketahuannya kepada hal-hal tertentu dengan modus menunjukkan
rasa kekurang pengetahuan.
Nah,
begitulah salah satu contoh yang mempunyai keterikatan kepada kasus berikutnya.
Ada juga kerancuan di antara kesederhanaan dan asal-asalan. Ini berkaitan
dengan bagaimana Pelakon menjalani proses-proses tertentu. Lebih jelasnya; dalam
pemaknaan ‘simpel’ untuk sebuah
penilaian tertentu yang mengacu kepada konsep kesederhanaan. Sesungguhnya kata
tersebut bermaksud menjelaskan bahwa objek yang dinilai mengandung essensi
tinggi tanpa mempunyai tingkat kerumitan dan aspek-aspek berlebihan.
Namun beberapa
Pelakon kadang menyalahgunakan pemaknaan tersebut. Yang katanya dibilang sederhana justru menunjukkan sebuah hasil
yang asal-asalan nan tak keruan. Contoh jelasnya mudah saja, yang asal-asalan
pasti tidak mempunyai esensi dan cenderung menyebalkan karena tidak ada
kejelasan sama sekali dalam gagasan yang menyokongnya.
Ngomong-ngomong
soal menyebalkan, beberapa Pelakon suka umbar ide liar menyebalkan. Yang
dimaksud disini adalah ide-ide yang sekadarnya, tidak lebih dari wacana.
Biasanya ide liar menyebalkan ini sering keluar dari mulut Pelakon ketika
tengah berada dalam konteks tertentu dengan tujuan mencari ide kreatif yang
menakjubkan (bisa saja dalam konteks lainnya). Tentu saja Pelakon menyampaikan
ide-ide liar tersebut dengan maksud dan tujuan yang sama. Tapi perbedaan antara
ide liar dan ide kreatif adalah; seperti yang sudah dikatakan tadi, ide liar
hanya sekedar wacana dan biasanya bersifat keluar dari konteks, tidak masuk
akal dan tidak relevan. Ide ini sebenarnya hanya akan menghambat dan, sama
sekali tidak membantu.
Jika kita
perhatikan lagi, semua hal yang sudah dijelaskan mempunya keterkaitan satu sama
lain. Dan yang paling besar di antara semuanya adalah antara impian yang
bertujuan dan onani angan-angan. Semua orang punya impian yang berbeda-beda dan
juga besar. Atau anggaplah impian itu sama dengan cita-cita. Impian atau
cita-cita, dapat diraih walaupun digantungkan setinggi-tingginya. Malah
sekarang ini banyak sekali kisah inspiratif yang dapat memberikan motivasi bagi
kita.
Ketika berbicara
hal yang bersebrangan dengan impian, yang ada hanyalah angan-angan. Angan-angan
itu lebih parah dari fatamorgana karena ia bukanlah suatu fenomena melainkan sama,
dengan bualan. Pelakon biasanya seringkali membual tentang angan-angan seperti
hal itu dapat digapainya di kemudian hari. Sepintas, angan-angan mirip seperti
mimpi. Yang menjadikan pembeda yang jelas adalah usaha untuk membuatnya menjadi
kenyataan. Tanpa usaha, semua impian akan sama dengan onani angan-angan.
Mengapa demikian? Karena angan-angan hanya akan mempunyai keberadaan dalam
kepala dan tidak akan muncul dalam bentuk realita.
Dari contoh yang
sudah dijelaskan, kita bisa mengenali gejala-gejala perilaku pelakon yang
berpola piker terbalik. Walaupun demikian, sebenarnya segala sesuatu yang
dituliskan pendongeng bukanlah hal yang buruk. Pun tidak ada maksud untuk
menkecilkan siapa-siapa disini, yang ditujukan adalah agar kita semua menyadari
Pelakon macam apa kita ini sebenarnya. (TM/260312)
No comments:
Post a Comment
Tanggapan anda disini...