Kalau boleh dijelaskan dengan
singkat, film karya Joko Anwar ini hanya butuh satu kata untuk menggambarkan keseluruhannya—‘anomali’.
Dengan kata lain, film ini boleh jadi sebuah anomali di tengah-tengah stereotip
para pecinta film tanah air yang sudah terkonstruksi akibat perindustrian film
Indonesia sendiri. Tapi jika bicara soal stereotip pada film karya anak bangsa,
persepsi yang sudah terbangun biasanya akan selalu berkesan buruk.
Lantas hal
tersebut juga menimpa garapan mas Joko Anwar yang sempat menduduki peringkat
kedua di IMDB. Contoh jelasnya adalah, kecenderungan besar untuk komentar yang negatif
dapat ditemukan pada kolom komentar di situs yang menampilkan reklame film
tersebut. Sebagai contoh, belum lagi film itu lepas dari label ‘COMING SOON’ tapi, sudah banyak asumsi
yang menerangkan bahwa Modus Anomali hanyalah tayangan murahan lain yang tidak
akan jauh dari tema; hantu-hantuan dengan bumbu ‘ngeres’, cerita cinta picisan atau, komedi murahan.
Pada saat itu
saya sangat berterima kasih kepada para sineas yang turut andil dalam
mengkonstruksi persepsi perfilman Indonesia sehingga membuahkan juga
mencipratkan prasangka buruk pada film-film berkualitas, tanpa jasa anda semua
perfilman Indonesia jelas akan jauh lebih maju. Jika saya boleh saran, sebagai
seorang pendongeng saya harap anda-anda ini sebaiknya jadi lebih bijak untuk
mengambil langkah pensiun dini.
Kembali pada
Modus Anomali, dengan dasar pemikiran awam dan agak sempit, saya pikir mas Joko
Anwar ini benar-benar memahami dua buah kata yang dijadikan judul film ini.
Malah saya pun jadi curiga, jangan-jangan mas Joko ini mengambil dua kata
tersebut untuk dijadikan premis. Dari mulai gagasan pokok cerita hingga ke
teknis pembuatan film.
Bagaimana tidak,
di sepuluh menit pertama film ini berputar, pengambilan tata kamera sudah berhasil membawa pada histeria yang
dibangun oleh keseluruhan film itu. Belum lagi set yang mendukung konsistensi silogisme cerita,
kurang lebih, sangat efektif dan berhasil membuat pasangan saya ngumpet hampir
sepanjang durasi. Tanpa bermaksud memberikan bocoran, teknik pengambilan kamera
yang berjarak sangat dekat dan tidak kukuh sangat berpengaruh dalam pembuatan
sensasi tegang dalam film itu. Seolah-olah membuat penonton dapat merasakan
kecemasan dari karakter yang berada pada bingkai kamera. Disinilah letak
anomali pertama yang saya alami dari menyaksikan film tersebut.
Tapi tidak hanya
itu saja, tema dan misteri yang menjadi inti dari certia pun sangat tidak
biasa. Alur maju yang membongkar penjelasan misteri secara deduktif di akhir
cerita—seperti berjalan mundur; dari titik awal cerita hingga pemberian jawaban
dari semua rangkaian peristiwa dalam film yang tersimpul dengan sangat erat dan,
tidak meninggalkan tempat pada irasionalitas. Secara pribadi, saya menerka yang
akan terjadi di plotnya namun, tidak menyangka bahwa semua pertanyaan misteri
dalam cerita di film ini dipecahkan oleh alurnya sendiri. Pada saat itu saya
merasa alur cerita telah mengabulkan permintaan saya.
Boleh saya
katakan, anomali tema dan penceritaan di film ini dapat diterima dengan baik
oleh logika penonton. Walaupun ada satu kejadian yang masih menggelitik pikiran
saya sampai saat ini tapi, mungkin saja itu salah satu anomali yang ingin
disajikan oleh mas Joko dengan filmnya. Kegelian itu adalah pada adegan
karakter yang terkena panah di lengan. Kamera benar-benar memberikan
pengetahuan tentang tata cara pertolongan pertama bagi luka panah, disaat yang
sama saya pikir film ini benar-benar didasari pemahaman yang kuat.
Namun perkataan
saya barusan itu berubah seratus delapan puluh derajat ketika melihat si korban
panah, mengayunkan tongkat pemukul bisbol dengan sangat leluasa dan membunuh
orang dengan sangat mudahnya. Hei, saya pikir ia terlalu lelah dengan
petualangan yang tidak berbekal itu. Lalu apa kabar luka di tangannya ya? Ini
menjadi pertanyaan di benak saya.
Secara harfiyah,
kedua kata yang menjadi judul tersebut bisa saja mengandung makna yang dapat
mewakili keseluruhan premis film. Modus anomali, jika melihat dari medan
pemaknaannya bisa bermakna perilaku menyimpang. Dengan mengkaitkan ini pada
cerita dan aspek-aspek lain dalam film ini, maka pemaknaan tersebut akan
terdengar sangat wajar. Apalagi pada pembahasaan dalam film ini yang sangatlah,
anomali sekali.
Saya benar-benar
terkejut dan heran, Joko Anwar seorang sutradara Indonesia membuat film
berjudul bahasa Indonesia, dan para pemeran dalam filmnya juga orang Indonesia.
Tapi yang mencengangkan adalah ketika semua dialognya menggunakan bahasa
Inggris.
Saya pikir, ‘Nah
ini dia yang namanya sebuah perilaku menyimpang atau dalam tanda kurung, sebuah
modus anomali.’ Hanya ada sebuah tanda tanya besar tersisa dalam kepala saya untuk
perkara ini. apabila saya berhak menghakimi maka, terlepas dari segala
kemungkinan penggunaan bahasa asing itu mempunyai tujuan tertentu, pembahasaan
tersebut merupakan kealpaan dari Joko Anwar selaku sutradara dan penulis dari
film Modus Anomali. Tapi kenyataannya saya bukanlah si hakim, cuma pendongeng
biasa saja. Maka dari itu saya bertahan dengan pemikiran positif yang menggumam
bahwa penggunaan bahasa tersebut adalah salah satu pendukung dari kesatuan
aspek yang membangun konsep dan teknis film Modus Anomali secara keseluruhan,
yang tujuannya adalah agar dapat diterima dengan baik oleh penonton.
Ya, semoga saja
itu benar. Karena jika tidak, apapun alasannya, film yang menarik ini akan
menjadi banyolan jenaka lain dari perindustrian film di Indonesia. Ketika yang
terjadi adalah demikian, maka saran yang paling bijak adalah jangan salahkan
opini mereka yang kelelahan menanti film yang layak untuk disajikan oleh para
sineas Indonesia, demi para pecinta film tanah air.(TM2/5/12)
ya ampuuuunnn
ReplyDelete