Thursday, May 3, 2012

Anomali dalam Film Karya Joko Anwar, 'Modus Anomali'


               Kalau boleh dijelaskan dengan singkat, film karya Joko Anwar ini hanya butuh satu kata untuk menggambarkan keseluruhannya—‘anomali’. Dengan kata lain, film ini boleh jadi sebuah anomali di tengah-tengah stereotip para pecinta film tanah air yang sudah terkonstruksi akibat perindustrian film Indonesia sendiri. Tapi jika bicara soal stereotip pada film karya anak bangsa, persepsi yang sudah terbangun biasanya akan selalu berkesan buruk.
Lantas hal tersebut juga menimpa garapan mas Joko Anwar yang sempat menduduki peringkat kedua di IMDB. Contoh jelasnya adalah, kecenderungan besar untuk komentar yang negatif dapat ditemukan pada kolom komentar di situs yang menampilkan reklame film tersebut. Sebagai contoh, belum lagi film itu lepas dari label ‘COMING SOON’ tapi, sudah banyak asumsi yang menerangkan bahwa Modus Anomali hanyalah tayangan murahan lain yang tidak akan jauh dari tema; hantu-hantuan dengan bumbu ‘ngeres’, cerita cinta picisan atau, komedi murahan.

 
Pada saat itu saya sangat berterima kasih kepada para sineas yang turut andil dalam mengkonstruksi persepsi perfilman Indonesia sehingga membuahkan juga mencipratkan prasangka buruk pada film-film berkualitas, tanpa jasa anda semua perfilman Indonesia jelas akan jauh lebih maju. Jika saya boleh saran, sebagai seorang pendongeng saya harap anda-anda ini sebaiknya jadi lebih bijak untuk mengambil langkah pensiun dini.
Kembali pada Modus Anomali, dengan dasar pemikiran awam dan agak sempit, saya pikir mas Joko Anwar ini benar-benar memahami dua buah kata yang dijadikan judul film ini. Malah saya pun jadi curiga, jangan-jangan mas Joko ini mengambil dua kata tersebut untuk dijadikan premis. Dari mulai gagasan pokok cerita hingga ke teknis pembuatan film.
Bagaimana tidak, di sepuluh menit pertama film ini berputar, pengambilan tata kamera  sudah berhasil membawa pada histeria yang dibangun oleh keseluruhan film itu. Belum lagi set  yang mendukung konsistensi silogisme cerita, kurang lebih, sangat efektif dan berhasil membuat pasangan saya ngumpet hampir sepanjang durasi. Tanpa bermaksud memberikan bocoran, teknik pengambilan kamera yang berjarak sangat dekat dan tidak kukuh sangat berpengaruh dalam pembuatan sensasi tegang dalam film itu. Seolah-olah membuat penonton dapat merasakan kecemasan dari karakter yang berada pada bingkai kamera. Disinilah letak anomali pertama yang saya alami dari menyaksikan film tersebut.
Tapi tidak hanya itu saja, tema dan misteri yang menjadi inti dari certia pun sangat tidak biasa. Alur maju yang membongkar penjelasan misteri secara deduktif di akhir cerita—seperti berjalan mundur; dari titik awal cerita hingga pemberian jawaban dari semua rangkaian peristiwa dalam film yang tersimpul dengan sangat erat dan, tidak meninggalkan tempat pada irasionalitas. Secara pribadi, saya menerka yang akan terjadi di plotnya namun, tidak menyangka bahwa semua pertanyaan misteri dalam cerita di film ini dipecahkan oleh alurnya sendiri. Pada saat itu saya merasa alur cerita telah mengabulkan permintaan saya.
Boleh saya katakan, anomali tema dan penceritaan di film ini dapat diterima dengan baik oleh logika penonton. Walaupun ada satu kejadian yang masih menggelitik pikiran saya sampai saat ini tapi, mungkin saja itu salah satu anomali yang ingin disajikan oleh mas Joko dengan filmnya. Kegelian itu adalah pada adegan karakter yang terkena panah di lengan. Kamera benar-benar memberikan pengetahuan tentang tata cara pertolongan pertama bagi luka panah, disaat yang sama saya pikir film ini benar-benar didasari pemahaman yang kuat.
Namun perkataan saya barusan itu berubah seratus delapan puluh derajat ketika melihat si korban panah, mengayunkan tongkat pemukul bisbol dengan sangat leluasa dan membunuh orang dengan sangat mudahnya. Hei, saya pikir ia terlalu lelah dengan petualangan yang tidak berbekal itu. Lalu apa kabar luka di tangannya ya? Ini menjadi pertanyaan di benak saya.
Secara harfiyah, kedua kata yang menjadi judul tersebut bisa saja mengandung makna yang dapat mewakili keseluruhan premis film. Modus anomali, jika melihat dari medan pemaknaannya bisa bermakna perilaku menyimpang. Dengan mengkaitkan ini pada cerita dan aspek-aspek lain dalam film ini, maka pemaknaan tersebut akan terdengar sangat wajar. Apalagi pada pembahasaan dalam film ini yang sangatlah, anomali sekali.
Saya benar-benar terkejut dan heran, Joko Anwar seorang sutradara Indonesia membuat film berjudul bahasa Indonesia, dan para pemeran dalam filmnya juga orang Indonesia. Tapi yang mencengangkan adalah ketika semua dialognya menggunakan bahasa Inggris.
Saya pikir, ‘Nah ini dia yang namanya sebuah perilaku menyimpang atau dalam tanda kurung, sebuah modus anomali.’ Hanya ada sebuah tanda tanya besar tersisa dalam kepala saya untuk perkara ini. apabila saya berhak menghakimi maka, terlepas dari segala kemungkinan penggunaan bahasa asing itu mempunyai tujuan tertentu, pembahasaan tersebut merupakan kealpaan dari Joko Anwar selaku sutradara dan penulis dari film Modus Anomali. Tapi kenyataannya saya bukanlah si hakim, cuma pendongeng biasa saja. Maka dari itu saya bertahan dengan pemikiran positif yang menggumam bahwa penggunaan bahasa tersebut adalah salah satu pendukung dari kesatuan aspek yang membangun konsep dan teknis film Modus Anomali secara keseluruhan, yang tujuannya adalah agar dapat diterima dengan baik oleh penonton.
Ya, semoga saja itu benar. Karena jika tidak, apapun alasannya, film yang menarik ini akan menjadi banyolan jenaka lain dari perindustrian film di Indonesia. Ketika yang terjadi adalah demikian, maka saran yang paling bijak adalah jangan salahkan opini mereka yang kelelahan menanti film yang layak untuk disajikan oleh para sineas Indonesia, demi para pecinta film tanah air.(TM2/5/12)

1 comment:

Tanggapan anda disini...