Thursday, March 22, 2012

Tulisan Perdana

                Jujur saja, saya agak bingung untuk memulai posting pertama saya di blog ini. Yang memgbuatnya membingungkan adalah proses penerjemahan dari apa yang ada di kepala saya ke dalam bentuk kata yang saling terhubung satu sama lain, hingga menjadi sebuah tulisan yang layak dibaca. Sebenarnya, saya sudah mempunyai blog dari website lain namun saya menggunakan bahasa Inggris disana karena beberapa alasan. Dan, untuk blog ini, saya berniat menggunakan bahasa yang menjadi identitas saya di belahan dunia ini yakni, bahasa Indonesia. Nah, sekarang pertanyaannya adalah, mengapa saya justru kesulitan dalam melakukan penulisan berbahasa asli saya sendiri?
                Hal yang menguntungkan bagi saya dalam menjelaskan jawabannya adalah, karena saya sudah sedikitnya belajar ilmu tentang bahasa sewaktu kuliah (walaupun yang saya ambil bukanlah sastra Indonesia melainkan, sastra “bahasa asing” tapi, setidaknya saya mampu mereka-reka sebab musabab dari masalah ini).
                Mungkin saja ini terjadi karena saya terlanjur terbiasa tidak menggunakan bahasa Indonesia dalam proses penulisan. Hingga akhirnya, logika bahasa yang menempel di kepala saya bukanlah bahasa tempat saya dilahirkan dan menjadi besar hingga mampu mempelajari bahasa lain. Mungkin terdengar agak sok tahu atau sombong tapi, tanpa disadari, setiap kata mengandung asosiasi terhadap konsep tertentu yang mana dapat membuat seseorang, dalam hal ini adalah saya sendiri, luput dari asosiasi antara kata dan konsep dalam pembahasaan bahasa Indonesia. Jujur saja, banyak hal yang saya sendiri tidak tahu harus direpresentasikan dengan kata apa, menyedihkan bukan?
                Selain itu, seringkali saya merasa kurang percaya diri ketika menggunakan bahasa Indonesia dalam proses penulisan. Saya akui bahwa pernyataan tersebut adalah aib yang sangat memalukan. Tapi sebaiknya janganlah dulu sinis karena alasan saya adalah perasaan yang selalu mengemukakan pembahasaan saya ini cenderung kaku dan kurang lepas.
Seringkali saya mencoba mereka-reka, “Orang Inggris atau Perancis tu malu juga ngga ya kalo lagi nulis gunain bahasa mereka sendiri??” Tapi saya tidak pernah tahu jawabannya dan, sekarang pun juga tidak begitu peduli dengan apapun jawabannya. Yang saya tahu, saya ingin menulis menggunakan bahasa saya sendiri, bahasa Indonesia. Terserah saja kalau pembahasaan ini kaku macam rapat formal pak RT di perusahaan ternama dunia.
Saya juga mengamati beberapa hal yang unik dalam konteks bahasa dan pembahasaan Indonesia. Asumsi saya mengenai hal ini sangatlah miris dan ironis ketika mengingat penggunaan bahasa Indonesia di sekitar saya mencerminkan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan. Maksud saya dalam bentuk pertanyaan adalah, mengapa banyak sekali penggunaan kata bahasa asing dalam aspek-aspek yang berhubungan dengan masyarakat Indonesia sediri?
Contohnya, silahkan pergi ke mal terdekat dan lihat saja sendiri seberapa banyak pengunaan bahasa asing dalam hal perintilan. Atau boleh ditengok ke jejaring sosial tertentu, penggunaan bahasa asing mempunyai kecenderungan tinggi untuk digunakan (dari mulai yang asal-asalan, belepotan, sampai yang sangat mentaati aturan gramatikanya). Jika boleh menambahkan, mungkin saja ada beberapa orang yang menganggap bahwa penggunaan bahasa asing dapat menambahkan nilai-nilai tertentu yang dapat dibanggakan atau dengan kata lain, merasa lebih modern. Yang terakhir adalah guyonan paing lucu jika saja benar adanya!
Tapi jangan pula salah paham, saya tidak bermaksud menyalahkan dan tidak juga pernah menilai buruk siapapun dalam berbahasa. Bahasa adalah wawasan, oleh karena itu hal tersebut sangatlah berharga. Lagipula, bisa saja apa yang saya tuturkan itu tidak benar karena berdasarkan asumsi (tidak ada data yang valid jika ditinjau dari sudut pandang keilmuan).
Tapi jika saja ada yang ingin menjadikan hal ini latar pokok sebuah penelitian, saya sangat mempersilahkan. Karena sesungguhnya saya tidak punya niat untuk membuat karya ilmiah. Saya cuma ingin bercerita sebagaimana memainkan peran saya sebagai pendongeng di halaman maya ini. Selebihnya dari itu, seperti yang saya sudah utarakan dari awal, saya hanya ingin menulis dengan menggunakan bahasa ibu pertiwi saya sendiri.

Catatan: Hampir lupa satu hal, selamat datang di blog Si Pendongeng.

2 comments:

  1. selamat atas tulisan pertamanya...saya ada dua komen: yang pertama mengenai kebanggaan menggunakan bahasa ibu dan analisa mengenai bahasa ibu kita Indonesia.

    Semua orang akan bangga menggunakan bahasa ibunya untuk menyampaikan pendapat dan ide yang ada di kepalanya. Namun di Indonesia penggunaan bahasa asing merupakan nilai plus dan seringkali nilai plus ini dijadikan sebagai patokan orang ini cerdik pandai atau tidak. Penggunaan bahasa ibu merupakan satu2nya cara yang tepat untuk mengungkapkan ide mengingat bahasa secara esensi adalah mengenai makna dibalik kata. Jadi kata berubah makna dan menghasilkan asosiasi kedalam pikiran kita dan menumbuhkan pemahaman. Tepat disinilah kita memahami fungsi bahasa.

    Untuk komen yang kedua, bahasa Indonesia sampai saat ini banyak sekali menggunakan kata serapan dari bahasa-bahasa asing yang semakin menajamkan makna dari kata itu sendiri. namun sadarkah kita bahwa bahasa Inggrispun sebelumnya mengalami hal yang sama menggunakan cerapan dari bahasa anglo saxon dan bahasa-bahasa yang lain yang terlebih dahulu ada. jadi penggunaan kata serapan itu wajar sejauh itu menjadikan fungsinya lebih baik daripada ketiadaannya.

    wasalam

    ReplyDelete
  2. Wah terima kasih sekali pak Anjar, komentar dan analisa yang sangat baik sekali.

    Saya pribadi sangat mempersilahkan orang-orang yang ingin memberikan nilai lebih dalam penggunaan bahasa asing. Seperti yang sudah dituliskan di atas, tidak ada maksud untuk menyalahkan orang-orang yang berbahasa. Selama si pembicara dan si pendengar bisa memahami maksud dari pembahasaan mereka masing-masing. Karena, akan lucu jika saya memberi tanggapan kepada komentar pak Anjar dengan bahasa Swahili, bukan begitu pak? hehe.

    Soal asumsi saya dalam pembahasaan asing di Indonesia, itu hanya mewakili asumsi pribadi saja. Akan lebih menarik jika pembahasaan asing itu dapat diaplikasikan dengan berdasarkan koridornya. Saya pikir, sampai sekarang belum ada koridor yang jelas untuk itu. Atau mungkin saja saya yang belum tahu, jika benar begitu maka mohon berikan pandangan lain ya pak.

    Yang terakhir adalah mengenai serapan. Tepat sekali pak Anjar, tidak sedikit kata yang diserap oleh bahasa Inggris. Saya sangat tidak keberatan dengan hal tersebut. Bahasa Indonesia pun juga sama.

    Tapi coba bapak bayangkan apabila semua kata yang ada dalam pembahasaan bahasa Indonesia tidak lagi mempunyai perbedaan yang mengacu kepada identitas bangsa melainkan sama seperti hasil jiplakan bahasa lain?
    Seperti apapun bayangan bapak mengenai hal itu, fungsi serapan dalam sudah tentu ada. Tapi, yang saya tujukan dalam hal ini adalah kesadaran dalam menggunakan bahasa sendiri.

    Sebagai tambahan untuk pertimbangan bapak, mungkin bapak bisa melakukan penelitian kecil tentang bagaimana orang Prancis atau Inggris berkesadaran dalam menggunakan bahasanya sendiri di negara mereka masing-masing. Walaupun dalam konteks tertentu, mereka bisa saja menggunakan bahasa asing untuk berkomunikasi. Namun bagaimana dengan kita pak?

    Ini sebuah dongeng yang menarik bukan?

    Terima kasih.

    ReplyDelete

Tanggapan anda disini...